Perlu Kemitraan NU, Muhammadiyah, dan LDII

September 1, 2008

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj mengatakan, perlu dibangun kerjasama dan kemitraan antara NU, Muhammadiyah, dan Lembaga dakwah Islam Indonesia (LDII). Menurutnya, hal itu penting untuk menghilangkan ruang ketidakpercayaan di antara mereka.

“Kita perlu kemitraan. Pasti akan kita sosialisasikan ke tingkat bawah,” kata Kang Said—begitu panggilan akrabnya—usai memberi pembekalan materi tentang Sumber Daya Manusia (SDM), pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII 2007, di Gedung Balai Kartini, Jakarta, Kamis (8/3) kemarin.

Selama ini, kata Kang Said, ketiga organisasi kemasyarakatan Islam tersebut kurang komunikasi dan silaturahim. Sehingga terjadi saling curiga dan kehilangan kepercayaan. Hal itu kemudian diperkuat adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja memperlebar ruang ketidakpercayaan tersebut. “Ada kelompok, entah siapa, yang tidak senang kalau kita bersatu atau memperkuat persatuan,” ungkapnya.

Menurut Kang Said, kesempatan tersebut adalah awal yang baik bagi LDII, NU, maupun Muhammadiyah. Dia juga mengatakan, jika ada acara, NU dan Muhammadiyah juga akan mengundang LDII.

Diakui Kang Said, pada dasarnya tidak ada masalah di antara ketiga organisasi Islam tersebut. Kalaupun ada, kata dia, hal itu sangat kecil dan parsial, bukan hal yang prinsip.

Dalam kesempatan itu, Kang Said juga mengungkapkan bahwa selama ini ada kelompok yang ingin memecah-belah dengan menebarkan isu negatif di tingkat bawah. “Mulai dari isu dan fitnah yang paling berbahaya. Katanya LDII mengkafirkan orang kalau bukan LDII, itu saya dengar. Itu tidak benar, ternyata saya ketemu dengan Pak Abdullah Syam, tidak benar itu semua, tapi itu sudah tersebar di level bawah,” paparnya.

Ketua Umum LDII KH Abdullah Syam mengatakan pihaknya siap menjalin kemitraan dengan NU dan Muhammadiyah. Bahkan, kata dia, kerjasama dengan mereka sudah lama dilaksanakan. “Dulu kita kerjasama dengan PBNU masalah rehabilitasi lahan, masalah-masalah membangun lingkungan,” tuturnya.

Kerjasama konkret tersebut, kata Syam, dilakukan saat mereka me-recovery lingkungan di Jember. Mereka mengadakan seminar dan kegiatan lain terkait hal itu dengan pengurus NU setempat. Bahkan, kata dia, ada warga yang mendapatkan Kalpataru karena itu.

Saat ini, kata Syam, kemitraan akan dilakukan terutama untuk masalah pembangunan ekonomi dan lingkungan. “Jadi kita tidak persoalkan lagi yang menyangkut metodologi pesantren atau pondokan itu sudah punya ininya sendiri-sendiri. Tapi kepentingan ekonomi dan lingkungan akan kita jalin,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Politik Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Najamuddin Ramly juga mengatakan perlunya kemitraan di antara ketiga ormas Islam tersebut. Ketiganya juga harus saling bantu satu sama lain.

Menurut Ramly, ketiga ormas Islam tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan dan dibedakan. “LDII lembaga dakwah, NU lembaga dakwah, Muhammadiyah lembaga dakwah. NU pakai kitab sunnah, Muhammadiyah pakai kitab sunnah, LDII pakai kitab sunnah. Kita bersaudara,” tandasnya. (rif)
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8601

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: